Potret Pendidikan, Potret Bangsa

Artikel ini sebenernya tugas yang harus gue bikin untuk menggantikan tugas YOTMengajar, too bad gue ngga bisa ikut mengajar di Yayasan Fatahillah. So here it is.

Suatu ketika, pernah saya membaca sebuah artikel mengenai Jepang setelah mereka mengalami peristiwa bom Hiroshima – Nagasaki yang memporak – porandakan Jepang dan menewaskan banyak masyarakatnya. Dalam artikel tersebut, dan masih tetap saya ingat sampai hari ini, ketika setelah peristiwa tersebut, sang Kaisar Hirohito tidak menanyakan berapa jumlah armada militer yang siap bertempur kembali, melainkan ia mengajukan pertanyaan kepada staf pendidikannya, “Berapa jumlah guru yang masih kita punya saat ini? Kita akan bangkit lagi dan menjadi bangsa yang terhormat di muka bumi ini.”. Saat ini, seperti yang kita ketahui bersama, Jepang benar – benar telah menjadi bangsa yang besar dan terhebat di dunia, bahkan dalam beberapa aspek mampu mengalahkan Amerika Serikat yang merupakan Negara adikuasa saat ini.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas? Tentu saja bahwa pendidikan merupakan pondasi yang sangat penting bagi sebuah Negara yang ingin membangun negaranya menjadi lebih baik. Pendidikan merupakan modal yang mungkin secara materi tidak terlalu terlihat, tetapi mampu membawa dampak besar yang berjangka panjang. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang wajib dimiliki sebuah Negara jika ingin menjadi sebuah Negara yang beradab.

Berbicara mengenai pendidikan, kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya bersyukur, karena ternyata pendidikan menjadi bagian dalam Undang – Undang Dasar Negara Indonesia. Pada paragraf pembukaan, tercantum dengan sangat jelas bahwa tujuan Negara adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Kemudian, pendidikan juga kembali dijabarkan dengan jelas pada pasal 31 UUD 1945. Apalagi yang  kurang? Semua nampak indah sekali bukan?

Kenyataan yang ada ternyata tidak seindah tulisan-tulisan yang ada pada Undang – Undang tersebut. Pendidikan Negara kita masih jauh dari harapan dan juga tujuan Negara. Bisa dikatakan pula bahwa pendidikan Indonesia mengalami penurunan. Simpel, dulu berbondong – bondong orang Asia belajar di Indonesia, dan sekarang berbondong – bondong masyarakat Indonesia belajar ke luar Indonesia.

Yang sebenarnya terjadi adalah tidak berjalannya sistem pendidikan yang telah dirancang oleh pemerintah. Permasalahan pendidikan yang dialami Negara ini tidak segelintir. Mulai dari anggaran pendidikan. Dibawah ini saya memberikan tabel perbandingan anggaran pendidikan dari APBN untuk tahun 2007 – 2012.

Dari tabel di atas, dapat kita lihat bahwa pada tahun 2007 dan 2008, pemerintah melanggar UUD pasal 31 ayat 4, yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan, sekurang – kurangnya harus mencapai 20% dari APBN. Dari data di atas, kita juga bisa berbangga karena anggaran pendidikan setiap tahunnya selalu bertambah. Tapi apakah dengan bertambahnya anggaran, bertambah pula kualitas pendidikan kita? Pertanyaan tersebut seakan menjadi kalimat retoris yang tidak perlu dijawab.

Dana Rp 289 triliun yang dianggarkan dari APBN untuk sektor pendidikan hanya menjadi sekedar sebuah angka jika kita melihat masih banyaknya gedung – gedung sekolah yang tidak layak pakai, masih banyaknya sekolah yang kekurangan guru, tidak tercapainya pemerataan, dan kurangnya kesejahteraan guru. Terlebih lagi yang menjadi masalah bagi masyarakat adalah mahalnya biaya pendidikan. Mahalnya biaya tersebut, kurang dibarengi dengan baiknya kualitas pendidikan yang diberikan,

Kalau kembali kita tilik UUD 1945 pasal 31 ayat 2, berbunyi “Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.”. Masih pantaskah ada pendidikan mahal saat ini? Lantas, dengan ini berarti pemerintah kembali melanggar UUD?

Pada tahun 2010, Media Indonesia mencatat ada sekitar 13 juta anak Indonesia putus sekolah. Kemudian pada tahun 2011, pemerintah mulai mencairkan BOS “Bantuan Operasional Sekolah” yang bertujuan untuk meringankan beban pendidikan. Rasa optimis sedikit muncul dengan adanya BOS ini. Pada tahun 2011, jumlah anak putus sekolah berkurang menjadi 12 juta anak, setelah pemerintah menggelontorkan dana Rp 16 triliun. Suatu hal yang menurut saya belum berjalan dengan efektif, mengingat sampai saat inipun masih banyak sekolah yang tidak mendapat dana BOS, padahal sekolah tersebut layak mendapatkannya. Dengan data ini, dapat kita ambil kesimpulan cepat bahwa tidak ada lagi anak putus sekolah pada tahun 2023. Waktu yang sangat lama.

Ya, Negara ini butuh solusi. Saya rasa jumlah sebesar 20% dari APBN untuk pendidikan yang dianggarkan pemerintah sudah cukup. Lebih baik lagi apabila jumlah tersebut ditambah. Namun, penambahan anggaran sudah seharusnya sejalan dengan penambahan kualitas. Hal ini tentu saja dimulai dari bagaimana dana tersebut disalurkan. Birokrasi berbelit sudah harus dimusnahkan dari sekarang, tidak ada lagi pungutan – pungutan liar dalam perjalanan dana tersebut dalam mencapai sasarannya. Ya, Sumber Daya Manusia menjadi sorotan utama jika berbicara masalah anggaran dan tanggung jawab.

Pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus bekerja sama dengan baik dalam memberikan informasi kebutuhan apa saja yang diperlukan daerah untuk memperbaiki kualitas pendidikan daerah. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan pemerataan pendidikan yang ada di daerah terpencil sehingga bisa sama dengan yang ada di kota besar.

Pemerintah juga bisa kembali mendengungkan GNOTA “Gerakan Nasional Orang Tua Asuh”. Gerakan ini dibentuk pada tahun 1996 yang bertujuan untuk mencarikan orang tua asuh untuk membantu membiayai sekolah bagi anak – anak yang tidak mampu. Gerakan ini sekarang seakan tidak lagi berkembang. Jarang kita mendengar lagi gaungnya, padahal pada awal pembentukannya, gerakan ini mampu memberi solusi pada permasalaha penidikan yang ada.

Saya masih tetap yakin bahwa Indonesia mampu menjadi Negara yang besar dan berpendidikan baik. Masih ada harapan yang bisa kita gali bersama, dan bersama – sama pula mencapai tujuan Negara untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Cheerio :D

@vilisarnie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s