Krida Art Group (Part-1): Langit Biru Benua Biru

pexels-photo-112846Setelah dari pagi, siang, sampai malem belom tau mau nulis apa, barusan ngga sengaja buka-buka folder foto, dan nemu foto-foto waktu di Eropa dulu. Dan baru inget kalo ternyata belom pernah nulis soal pengalaman berharga itu. Well, now here it is.

Semua berawal dari kepindahan sekolah Saya dari SMP di Bontang ke SMA di Bandung. Alasan mau masuk di SMA itu adalah karena sekolah itu ada program ke luar negerinya. Ya that’s it. Alasan Saya pilih sekolah itu hanya karena ada program ke luar negerinya. Padahal, belum tentu juga pas sekolah di sana nanti bisa lolos seleksi masuk program itu. Tapi tetep yakin aja kalau pasti bisa masuk program itu. Program itu adalah Krida Art Group. Sebuah grup beranggotakan murid-murid terpilih yang memiliki keterampilan menari dan memainkan musik tradisional dari seluruh Indonesia, membawa misi untuk memperkenalkan seni tradisional Indonesia ke luar negeri. Ikut festival kesenian tradisional di Eropa yang pesertanya berasal dari seluruh dunia.

Beruntungnya, setelah melewati serangkaian tes, akhirnya Saya terpilih masuk ke dalam grup tersebut. So happy! Alasan saya masuk sekolah ini bakal segera terwujud. Eropaaah, here I come! Grup ini terdiri dari 37 murid yang sudah diseleksi dan beberapa guru yang merupakan instruktur dan pembina grup ini. Kami dilatih setahun penuh secara ketat dan disiplin untuk mempelajari beberapa tarian dan alat musik tradisional. Latihan dimulai setelah pulang sekolah sampai menjelang maghrib. Terkadang pun kami harus mengorbankan hari libur kami demi latihan. Setiap orang harus dapat membawakan minimal tiga tarian tradisional plus angklung. Saya, kebagian membawakan tari tradisional Riau, tari Rampai Aceh, dan tari Kecak Bali. Saya juga kebagian memainkan lima angklung, dengan nomor 5, 9, F, D#, A. Saya pegang paling banyak angklung, karena lengan saya panjang, jadi bisa muat banyak haha :D.

Dalam persiapan selama setahun tersebut, kami juga sudah mulai tampil membawakan beberapa tarian di beberapa acara. Penampilan tersebut salah satunya bertujuan untuk mempersiapkan mental kami di atas panggung, juga melihat performa dan kesiapan kami untuk tampil di panggung sebenarnya di Eropa. Dari situ kami bisa melakukan evaluasi apa saja yang perlu diperbaiki.

Eropaaaaa! Ahh hari keberangkatan semakin dekat! Semua berkas-berkas keberangkatan seperti paspor dan visa sudah selesai diurus. Kami berangkat setelah ujian kenaikan kelas selesai. Sudah terbayang bagaimana langit Eropa akan menyambut kami keesokan harinya. Packing selesai! Kami diberi satu koper dan satu tas. Kopernya maksimal berbobot 8 kg. Lebih dari itu mesti dikurangi, tanpa kompromi, agar tidak overweight. Well, kami perlu menghemat barang bawaan kami.

Selasa, 24 Juni 2008. Jam 7 pagi waktu GMT+2:00. Langit biru Amsterdam menyambutku dengan mata bekas tidur semalam di pesawat. Kuhirup udara dingin yang sedikit menusuk hidung. Begini ternyata rasanya Eropa.

Akhirnya, saya bisa menginjakkan kaki di Eropa. Belanda! Sebelumnya saya cuma bisa mendengar kata-kata itu dari Ayah saya karena dia cukup sering dinas ke Negara ini. Tapi kali ini senangnya luar biasa karena saya bisa merasakan sendiri. Zuperr Happy!! Udara yang segar, dengan suhu yang cukup dingin bagi saya yang pakai jaket saat itu, padahal sedang musim panas tapi tetap saja dingin, dan langit biru yang bersih tanpa awan. Ahh, saya langsung jatuh cinta pada langit biru itu.

Bis kami sudah menjemput, kami mulai memasukkan barang-barang kami yang ternyata ada banyak banget itu ke dalam bis. Bis nya gede banget!! Roda belakangnya dua pasang. Yang satu pasangnya bisa ikut berbelok. Haha asli norak. Kalo di Indonesia kan ngga ada bis kaya gini. Sebelum berangkat, saya sempatkan dulu berfoto di depan bandara bertuliskan Schiphol.

58484_1376688374396_2821845_nBiar punya bukti kalau beneran pernah ke sini hihi. Nah, mulai dari sekarang siap-siap lihat foto saya yang mungkin banyak alay-nya ya. Maapkeun sebelumnya kalo norak haha.

Tujuan pertama setelah tiba di Amsterdam adalah menuju markas club Ajax Amsterdam. Whoaaa the best Netherland’s football club in the history! Yang biasanya saya cuma mainin di PlayStation, sekarang mau main ke stadion nya. Selama perjalanan ke sana saya melihat tata kota, jalanan, dan arsitektur kota Amsterdam. I loved it! Bersih, rapi, teratur, ahh andai di Indonesia bisa begini. Sampai di Amsterdam Arena, stadion nya Ajax, masih kepagian!

IMG_0013IMG_0015Belum bisa masuk ke dalam, sehingga kami berfoto-foto dulu di luar, sampai akhirnya diperbolehkan masuk. Kami diajak melakukan tur stadion. Mulai dari entrance, ruang ganti pemain, ruang press conference, ruang pameran trofi, museum, sampai ke tribun. Sayangnya, kami ngga bisa turun ke lapangannya karena waktu itu lagi persiapan untuk konser. Jadi lapangannya sudah ditutup dan sedang dipersiapkan untuk dijadikan panggung. Stadion itu merupakan stadion canggih, dimana rumputnya bisa digulung jika stadion akan dipakai untuk keperluan tertentu, dan atap stadion bisa dibuka dan ditutup untuk kegiatan tertentu. I was amazed! Di Indonesia belom ada yang begini nih. Selesai tur dalam stadion, kami singgah di Ajax Fan Shop untuk membeli beberapa souvenir.

Tujuan selanjutnya, ke Volendam! Di part-2 yaa :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s