Krida Art Group (Part-2): Kota Indah Tepi Laut

Habis dari Amsterdam Arena, kami lanjut perjalanan ke Volendam. Bergerak ke arah utara, kira-kira 20 km dari Amsterdam. Volendam itu sebuah kota kecil, atau mungkin malah desa ya. Sebuah desa nelayan yang cantik banget. Desa ini terletak di tepi laut, seperti pelabuhan, banyak kapal nelayan nya, dan sangat terkenal di kalangan wisatawan, terutama yang ingin merasakan nuansa desa nelayan yang khas dan pakaian tradisionalnya yang masih dipakai beberapa warga setempat.

Angin laut menyerbuku, memaksaku menghirup segarnya. Desa ini ramai, namun suasananya menenangkan. Rumah-rumah berhimpitan dengan berbagai warna. Indah, dan aku kembali jatuh cinta.

Di tepi jalan, di sepanjang jalan dari mulai masuk ada berjajar took souvenir, tempat makan, bar, dan rumah penduduk setempat. Souvenir yang dijual itu khas Volendam, temanya nelayan tradisional, seperti pakaian tadisionalnya, sepatu nelayan tradisional yang mirip sepatu aladin, gantungan kunci bentuk sepatu, lukisan, foto, dan lain-lain. Dan disini ada studio foto dimana kita bisa foto dengan berpakaian dan bergaya ala nelayan disini. Bisa foto di dalam studio, bisa juga berfoto outdoor. What you see below is mine haha.

IMG_20160627_201434

Oh yaa, di Volendam ini juga tempatnya si Keju Edam. Keju bulat berwarna merah yang terkenal itu. Ada beberapa tempat “cheese factory” pembuat keju Edam itu. Saya pengen beli dan dibawa pulang ke Indonesia sih, tapi dipikir-pikir takut meleleh, ini kan baru hari pertama, masih ada 29 hari lagi haha.

IMG_0001 IMG_0002

Dan sayangnya saya ngga banyak foto di Volendam ini. Cuma foto nampang dengan tentengan-tentengan yang bukan semuanya punya saya haha. Padahal bagus banget pemandangan dan arsitekturnya. Suatu hari saya pasti akan balik kesana lagi.

Google Image

Google Image

Karena cuma dikasih waktu dua jam mungkin ya, cepet banget rasanya di Volendam. Saya harus meninggalkan desa yang menenangkan ini. Disinilah tempat dimana saya bener-bener ngerasa bahwa inilah Belanda. Karena dari dulu yang tertanam dalam imajinasi saya, Belanda itu tempatnya pedagang-pedagang VOC, rumah-rumahnya di tepi laut, pakaiannya tradisional dengan sepatu aladin itu haha. But in the end, we should leave, to go to Sluiskil, Terneuzen. Our home base for the rest first week.

Home base kami selama berada di Belanda adalah di sebuah kota kecil bernama Sluiskil, di dalam Terneuzen Municipality. Municipality itu seperti Kabupaten mungkin kalo di Indonesia haha. Perjalanan dari Volendam ke Sluiskil memakan waktu cukup lama, karena Volendam ada di utara sedangkan Sluiskil ada di sebelah barat daya. Terneuzen ini letaknya di pinggir laut, sebelah baratnya berbatasan langsung dengan laut, dan terdapat beberapa daerah yang terpisah oleh laut.

Saya menikmati banget perjalanan dari Volendam ke Sluiskil. Kelihatan banget kalau Belanda itu tanah nya dataaaar banget, dikit banget naik turunnya. Bahkan katanya di beberapa tempat justru lebih rendah dari laut kan. Di kanan kiri saya lihat banyak sekali sawah, rumput, lading, berwarna hijau yang luas. Dan ini yang saya suka, lihat kincir angin!

IMG_0110

Tapi kincir angin yang sekarang sudah pakai kincir angin modern. Kincir angin yang tradisional, yang bentuknya besar banget itu sudah jarang digunakan. Nanti saya akan post suatu tempat yang ada kincir angina tradisionalnya. Perjalanan ke Sluiskil membuat saya kagum. Apalagi ketika masuk melewati tunnel. Awalnya saya ngga sadar kalau terowongan yang saya lewati itu sebuah tunnel. Saya kira cuma terowongan biasa. Saya baru sadar kalau itu adalah tunnel ketika mau keluar terowongan kok jalannya malah agak menanjak. Pas keluar dari terowongan, saya lihat kanan kiri itu laut. Whoaaaa barusan lewat tunnel! Kece banget! Norak!

Sampai di Sluiskil, saatnya pertemuan kami kepada Guess Parents. Ya, jadi selama berada di Sluiskil ini, kami akan tinggal bersama Guess Parents, penduduk lokal yang bersedia menerima dan mengasuh kami selama berada di sini. Guess Parents ini rata-rata adalah memang sudah secara regular setiap tahun menerima rombongan dari sekolah kami. Satu Guess Parents mendapat dua, maksimal tiga orang. Saya, bersama teman saya, Agha. Guess Parents kami bernama Dennis dan Marjan. Sepasang suami istri yang mempunyai dua anak bernama Marit (12 tahun) dan Erik (9 tahun). Setelah perkenalan, kami langsung menuju rumah Dennis.

Di sepanjang perjalanan ke rumah, Marjan yang saat itu menjemput sendirian bercerita tentang keluarganya, pekerjaannya, dan anak-anaknya. Dennis adalah seorang pekerja di perusahaan manufaktur, dan Marjan adalah kepala sekolah dasar. We talked in English, walaupun masih amburegul banget tapi mau ngga mau kan harus ngomong. Yang penting sama-sama ngerti aja haha.

So this is the house, will be our home for around ten days.

IMG_0017IMG_0022IMG_0016

Rumahnya terlihat kecil kalo dari depan, tapi sebenernya itu tiga tingkat. Basically, saya suka banget sama model rumah kecil seperti ini. Feels so homey and intimate. Kita sering keluar masuk lewat pintu belakang. Di bagian belakang ada kursi taman yang biasa dipakai bersantai sore. Lingkungan sekitarnya pun sangat tenang. Saya ngga tau sebenernya rumah-rumah di sekeliling ini ada penghuninya apa ngga sih, saking tenang nya.

IMG_0009

And here’s my bed. Kamar kami berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Marit dan kamar Erik. Kamar yang cukup kecil, hanya pas saja untuk dua orang. Heran nya, walaupun tidak ada AC, tetep aja rasanya dingin. Setelah merapikan barang-barang dan mandi, saya dan Agha turun ke bawah untuk mengobrol. Dennis baru pulang kerja, Marit baru pulang main tenis, Erik baru pulang main bola sama temen-temennya. Saat itulah kami baru berkenalan. Well, they are a cute and sweet family. I’ll tell you why later. Pas makan diajak makan malem, saya bingung. Ini kan masih sore, langit masih terang, maghrib aja belum tapi mereka sudah mau makan malem. Pas saya lihat jam ternyata udah jam 7 malem. Ahh yaa ini musim panas, matahari bersinar lebih lama. Katanya baru mulai gelap sekitar jam 9 malem.

Dan bener aja, pas yang lainnya udah mau berangkat tidur jam sekitar jam 9 malem, saya sama Agha mau tidur ngga bisa. Di luar masih terang. Baru mau sunset. Tapi akhirnya dipaksain tidur walaupun masih jetlag, but we need to go to sleep because the agenda for tomorrow starts in the morning.

Kegiatan besok nya, lanjut di Part-3 yaa. Semoga saya bisa ceritain pengalaman saya ini sedetail mungkin, walaupun mungkin akan menjadi banyak Part hanya untuk Krida Art Group ini. It’s okay, I’m enjoying it. Sambil berusaha memutar ingatan yang udah 8 tahun lalu hihi :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s