Semangat

n-happiness-628x314

24 hari, sejak tulisan saya yang terakhir di blog ini. Baru kali ini lagi saya menyentuh keyboard laptop saya dan mulai menari dengan jari saya kembali. Dengan ini, challenge saya untuk menulis selama 365 hari berturut-turut saya nyatakan resmi gagal. I can’t finish it. Baru beberapa hari sudah ada yang bolong-bolong ngga nulis. Well, konsistensi itu sangat mahal sekali harganya.

Kenapa saya bisa sampai gagal di challenge yang saya buat sendiri? Ada satu faktor yang sangat berperan penting dalam challenge ini. Sebuah kata, yang bisa merubah apapun menjadi apapun. Ketika saya memustuskan untuk memulai challenge itu, saya memilikinya. Begitu menggebu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai pudar. Sebuah kata.

Semangat

Yang membuatmu bangun lebih pagi. Berangkat kerja lebih cepat. Bekerja lebih giat. Makan lebih banyak. Bergaul lebih sering. Balik ke kantor setelah istirahat lebih cepat. Pulang kerja lebih larut. Menulis lebih lancar. Suasana hati lebih ceria. Tidur lebih nyenyak.

Semangat

Yang bisa datang dan pergi tanpa disuruh. Menjaganya cukup sulit, seperti menjaga hubungan. Faktornya?

Banyak

Memang kata orang, yang paling utama bisa menimbulkan semangat adalah dari dalam diri sendiri. Memotivasi diri sendiri untuk menimbulkan kembali semangat yang hilang. Untuk mengingat kembali tujuan yang ingin dicapai. Kata orang, lingkungan eksternal hanya membawa pengaruh kecil bagi semangat diri. Kata orang sih begitu. Bagi sebagian orang. Iya. Tapi bagi saya, belum tentu. Semangat adalah gabungan yang proporsional antara diri sendiri dan lingkungannya. Bagi saya. Seperti itu.

Saya dulu semangat menulis karena awalnya membaca sebuah artikel mengenai orang yang menulis 365 hari berturut-turut dan membawa hasil yang positif bagi pengembangan dirinya. Saya juga ingin seperti itu. Semangat saya tinggi. Tak perduli katanya menulis tiap hari itu sulit. Tapi akhirnya saya lakukan.

Sampai suatu ketika, mulai terasa bahwa menulis setiap hari itu benar-benar sulit. Mengetahui bahwa tulisan yang saya buat ternyata tidak signifikan. Tidak mendapat respon yang saya ekspektasikan. Suasana hati yang sering berubah-ubah. Mengetahui bahwa yang membaca tulisan saya hanya sedikit. Nah kan, melenceng dari tujuan aslinya. Hal-hal di atas menurunkan semangat secara cukup signifikan.

Menulis yang bermakna, menurut saya membutuhkan semangat ekstra. Semangat, yang didalamnya ditunjang oleh suasana hati. Ada bahagia, dan sedih. Keduanya menimbulkan semangat. Semangat untuk mengungkapkan kebahagiannya, atau kesedihannya. Tapi saya yakin bahwa semangat lebih identik dengan kebahagiaan. Saya merasakannya. Kalau lagi bahagia, ekspresi lebih mudah dikeluarkan, disalurkan. Kalau lagi sedih, bisa juga sih berekspresi, tapi biasanya sudah tidak punya tenaga.

Dan kalau kalian bertanya kenapa sekarang saya menulis lagi, well, yes, you know the answer is :)

Advertisements

Saya Menang

landscape-mountains-nature-manBoleh ngga saya bilang kalau dendam itu boleh-boleh saja? Ya bolehlah, asal membalas dendamnya tidak dengan menyakiti. Karena dendam itu menjadi termotiavasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Jadi ceritanya malam ini barusan saya main bulu tangkis. Rutinitas tiap selasa malam dan kamis malam yang dulu saya rajin ikut. Sampai suatu ketika saya berhenti bermain karena merasa tidak sreg dengan salah satu orang. Ia selalu ngomel, marah dan emosi ketika bermain. Mau dia yang salah pun, tetep pasangan mainnya yang dimarahi. Padahal dia juga tidak jago-jago amat. Saya kesal, dan ternyata orang lain pun merasakan hal yang sama dengan saya. Saya tidak sendiri. Dulu, katanya banyak temen-temen yang ikut main bulu tangkis ini. Tapi semenjak dia ikut bermain, semakin lama anggota semakin berkurang. Dan saya pun memutuskan untuk berhenti setelah lelah dan malas tiap bermain ada dia yang selalu mengomel.

Tapi malam ini, saya kembali bermain. Saya mau main lagi karena banyak teman-teman saya yang juga bermain, sehingga kami bisa membentuk grup sendiri, untuk yang junior-junior, misah dengan bapak-bapaknya. Saya punya keinginan untuk bisa mengalahkan dia. Dan hari ini kesempatan itu datang. Saya bisa membalaskan dendam saya. Saya melawan dia, dan saya menang dua set langsung.

Puassss! Hahaha. Dulu saya sering diomelin, sekarang saya menang. Dendam itu membuat saya harus bermain lebih baik dan bisa mengalahkan dia. Walaupun saya punya dendam, tapi diluar lapangan saya tetap berusaha baik dengan dia. Dendam saya ada di lapangan, maka saya selesaikan di lapangan. Setelah itu, ya sudah. Selesai. Kalau masih kurang puas, ya nanti di kesempatan berikutnya dibalas lagi. Tapi tetap, dengan cara yang memang seharusnya, bukan dengan menyakiti.

Tapi kalau anda orang hebat, lebih baik jangan mendendam. Karena sudah jelas, dendam itu tidak boleh dan tidak baik. Tapi kalau anda punya dendam, jadikanlah itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik, selesaikanlah dengan cara yang baik, tanpa harus menyakiti.

3A: Aiports, Airlines, Airplanes

gujpexels-photoTidak banyak, atau mungkin tidak ada yang tau kalau saya suka sekali dengan pesawat. Pesawat Komersil khususnya. You name it, Boeing, Airbus, Embraer, Bombardier, Lockheed, Tupolev, McDonnell Douglas, etc. Tapi herannya saya tidak antusias dengan pesawat tempur, atau pesawat lainnya yang bukan untuk tujuan komersil membawa penumpang.

Anehnya lagi, saya adalah orang aneh. Biasanya kalau seseorang suka sekali dengan sesuatu, dia akan punya banyak atribut mengenai yang dia sukai. Misal orang suka club sepak bola, dia akan punya baju bola nya, punya poster club, nyari-nyari tanda tangan pemainnya, dll. Orang yang suka pesawat pun biasanya mengoleksi miniatur. Saya, tidak sama sekali. Saya tidak pernah punya atau menyimpan atribut/pernak-pernik tentang suatu hal yang saya suka. Maka kamu jangan khawatir kalau saya suka sama kamu, karena saya tidak akan meminta bajumu, pernak-pernikmu, barang-barangmu. Hanya hatimu, dan sedikit cium…. setiap hari hahaa :D

Kenapa saya suka commercial plane? Tentunya whole package dengan airlines yang mengoperasikan pesawat tersebut. Cause I love the experiences of flying. Terbang, dengan pesawat dan airlines tertentu, memberikan pengalaman yang berbeda-beda, dan saya suka itu. Saya suka bagaimana sebuah airlines mendesain pelayanannya, mulai dari corporate identities, corporate culture, ground handling, hospitality, punctuation, loyalty program, connectivity, fleets, alliance, etc. Saya seperti ingin merasakan menggunakan jasa seluruh airlines di dunia ini untuk merasakan pengalaman terbang yang berbeda-beda. Dan, menjadi flying blogger mungkin? Hahaha. But seriously, I want it!

Memang ngapain sih kalo udah terbang? Paling ya tidur kan? Hahaa. Tergantung. Kalo penerbangan reguler yang sering saya lewatin, rutenya sering saya lewatin, airlines nya udah sering saya gunakan, dan memang ngga ada lagi yang bisa di eksplor, yaudah saya tidur aja. Paling pol, baca majalah. Lebih sering lagi, ngelamun. Mikir. Kadang mikir yang positif, kadang hanya sendu melagu. Karena awan-awan cantik itu seperti menentramkan. Tapi kalau pengalaman terbangnya baru, masih baru pertama kali, saya ngga akan tidur. Saya mencoba menikmati semua fasilitas yang diberikan, tanpa lupa tetap sendu melagu :D

Saya sebenernya pengen bikin trip report setiap habis terbang. Tapi seringnya rutenya itu-itu aja dan kurang mengasyikkan. Jadi kurang semangat untuk mendokumentasikan dan menuangkannya ke dalam tulisan. Tapi suatu saat, saya pasti akan memulainya.

Diluar pesawat dan airlines, saya juga suka dengan airports. Karena airports bukan hanya tempat datang dan berangkatnya penumpang. Tapi seluruh bentuk perasaan dan emosi terdapat di airport. Seseorang yang bersemangat ingin travelling. Seseorang wanita yang sedih mengantar lelakinya pergi. Seorang ibu yang mencoba tegar melepas anaknya merantau. Seorang businessman yang diburu waktu terbatas. Seorang pria yang pergi dengan amarah karena terkhianati. Seorang anak yang riang gembira akan menaiki pesawat pertamanya. Seorang tukang sapu yang lelah. Seorang ground staff yang cemas dengan kendala teknis. Seorang supir taksi yang gembira ketika ada pesawat mendarat. Sepasang cinta yang berpelukan erat, karena bisa jadi yang dipeluknya tak lagi akan kembali. Dan tetap ada, seseorang yang hanya bisa menertawakan itu semua.

Airports, airlines, airplanes bagi saya adalah satu paket. Satu paket yang menyajikan pengalaman yang tak akan pernah sama. Airports, airlines, airplanes adalah gambaran kedinamisan hidup yang terus berjalan, maju dan mundur, naik dan turun, di atas dan di bawah, sedih dan bahagia.

Musim Gugur

pexels-photo-133262Saat aku berjalan, sinarnya merasuk diantara celah-celah dedaunan.

Aku bersenandung sebuah lagu cinta, seraya kakiku menginjak dedaunan musim gugur. Satu daun, dua daun, tiga daun, dan daun-daun lainnya. Mereka tak memberi bunyi yang sama.

Dan dia di sini, mendampingi langkahku. Mengenalkanku pada dunia yang tak kuketahui sebelumnya. Membawaku pada hal baru, yang isinya bukan hanya hitam dan putih.

Tinggal lah di sini. Aku tak mau lagi hanya menghirup wangimu dari bantal kosong, yang biasa kau sandari ketika gelap datang, hingga terang menyapa.

Hanya Butuh Awal

pexels-photollllDunia pun ada awalnya. Apalagi bertemu denganmu. Dari yang dulunya tak tahu menahu, hingga kini kamu bisa tahu bagaimana kita. Awalnya tak ada yang tahu bumi itu bulat. Sampai akhirnya Christoper Colombus membuktikan sendiri ketidakpercayaannya. Hanya butuh awal, untuk masuk ke dalam bab dan halaman-halaman berikutnya. Halaman penuh misteri. Bertemu denganmu, adalah misteri  yang kini mulai terungkap.

Dulu tak ada yang tahu hukum gravitasi. Sampai akhirnya sebuah apel mengawalinya dengan menjatuhkan dirinya di samping Isaac Newton. Sebelumnya tak ada sesuatu yang terjadi. Sampai cantikmu mengawali pujianku atas dirimu. Awalnya tak ada yang mengira manusia bisa mengangkasa. Sampai akhirnya Wright bersaudara melakukan eksperimennya. Sebuah awal. Seperti sebuah sapa, yang menjadi awal segalanya. Seperti sebuah kecupan, yang menjadi awal dari hal yang lainnya.